Friday, April 02, 2004
Catatan Perjalanan
MENDULANG HARI DI TEMBAGAPURA
Assalamualaikum!
Mula-mula saya minta maap(kaya' Bajaj Bajuri, ces!) yang sebesar-sebesarnya karena baru sekarang bisa ngirim kabar dari papua.
Anyway, cerita ini dimulai ketika pesawat airfast 737-200 mulai mendaratkan badannya di Bandara Moses Kilangin, Timika, Papua. Sempat terkaget-kaget juga melihat fasilitas yang ada di ruang tunggu bandara. Jangan harap melihat eskalator atau papan elektronik yang mengabarkan arrival dan semacamnya, alih-alih barang mewah tersebut, yang ada hanyalah dua buah kotak seukuran 1x6 meter tempat portir yang mengendarai truk kecil membuang muntahan koper-koper dari perut pesawat dengan cueknya. Sementara para penumpang berjubel di d! epan kotak tersebut mencari barang-barangnya masing-masing.
Akhirnya, setelah berjuang keras, saya mendapatkan pula ransel 100 liter dan daypack saya. Sambil celingak-celinguk mencari mobil ambulans, saya mulai melangkahkan kaki keluar dari ruang tunggu bandara. Sayapun terperangah kaget kembali melihat mobil yang dikatakan ambulans sewaktu briefing di jakarta. Ternyata itu adalah sebuah Jip landrover Toyota 4WD yang diembel-embeli palang marah di moncong depannya.
Untunglah, ternyata pepatah don't judge a book by it's cover masih berlaku juga di sini. Walau berpenampilan buruk, ternyata fasilitasnya kelas satu. AC + sistem stereo, Jok empuk lengkap dengan seat-belt (yang kemudian saya ketahui harus selalu dikenakan kalau tidak mau bayar 400 ribu atau diterminated!), dan yang paling bikin saya terbengong-bengong adalah sistem radionya. Dari radio tersebut kita bisa menghubungi radio SSB, telepon, bahkan HT dan HP. Entah teknologi dari mana, yang jelas saya sudah tidak memikirkannya lagi ketika mobil mulai melaju langsung menuju tembagapura.
Sopirnya orang manado, yang dengan tangkas menjelaskan kondisi di kiri-kakan jalan. Jalannya berbatu-batu kerikil dan tidak diaspal. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa hal itu karena jalan tersebut sering dilalui truk-truk bertonase besar. makanya tidak seperti di Inco, Jalan sepanjang 74 Mile(dari puncak gunung Grasberg - Pelabuhan amamaparita) tersebut cuma dilapisi kerikil dan setiap hari disirami dan diratakan dengan glider. Juga dijelaskan tentang tailing, sungai keabu-abuan yang mengalir di sebelah kiri saya yang merupakan sisa pemisahan emas dan tembaga di oreflow di atas. Di sepanjang sungai tersebut nampak ratusan orang Amungme dengan tekun mendulang di tengah sungai. Oh, iya. Di dalam daerah kontrak karya PT FI ada dua suku besar, yaitu Amungme yang hidup di daerah pegunungan dan Kamoro yang hidup di tepi pantai. (Sekedar info, dari hasil mendulang di tailing tersebut kabarnya mereka bisa mendapatkan setengah hingga satu jeti sehari, bukan main!)
Pemeriksaan terhadap Universal ID amatlah ketat. Tiap orang yang tidak memiliki ID card diperiksa dan dipulangkan dengan segera ke LOw lands. Pemeriksaan berlangsung di tiga titik, yang paling utama di Mile 50. Di sini adalah titik pembatas antara highlands dan lowlands. Setelah melewati sebuah terowongan(kata si sopir, kita harus melewati sekitar 3 terowongan jika ingin menuju Mile 74!) yang panjangnya sekitar 1 km, sampailah kami di kota Tembaga pura. Dibangun disebuah lembah datar, dilewati oleh dua buah sungai besar, kota ini terlihat modern, damai dan dingin!.
Lewat di depan RS freeport yang mungil(kira-kira cuma seukuran UPF!) dan langsung ditempatkan di sebuah kamar lantai 1, tepat di depan Mess Hall(ruang makan) Flamboyant. Si sopir mengantar saya ke kamar dengan janji akan datang lagi besok untuk menjemput saya ke RS. Sebenarnya jaraknya dekat, namun takutnya kalo-kalo tersesat, maka saya mengiyakan saja maksudnya. lagipula, saya masih bengong juga melihat fasilitas kamar yang jauh kelasnya dibandingkan kamar di rumah, apalagi dengan ruang TBM dan Sinovia yang sering kita tinggali di kampus dulu. Sambil, membuang ransel ke lantai, menjatuhkan daypack ke meja, menyalakan TV dengan remote, saya membuang diri ke atas ranjang empuk berselimut rapi. Sebelum terlelap, terlintas pikiran untuk mandi air panas dan ganti baju. namun kantuk menyerang begitu hebat. Sambil bersepatu, sehabis berbisik bismillah, sayapun bergumam, que sera, sera..
Ditulis seorang teman dari SOS Papua

TREND BEROBAT KE LUAR NEGERI
(Mutu Dokter Indonesia Payah??)
Alm. Saidah Binti Amang, istri Doyok, meninggal menyisakan duka. Salah satunya tanya kenapa telat dideteksi dan salah diagnosa oleh dokter dalam negeri dan baru terungkap jelas di Singapura. Reynold Panggabean juga pernah mengalami salah diagnosa.
Atau mau yang jelas lagi, baca berita ini Enam Tahun, Kerangka Bayi di Perut Ny. Maryati.
Para artis pun mulai menyukai berobat ke luar negeri. Seperti juga pejabat, pengusaha bahkan koruptor.
Kenapa 'LUAR NEGERI' terasa lebih hebat dari dalam negeri. Prof. Dr. Iwan Darmawansyah, guru besar FKUI menganalisanya begini:
Sindrom Metromini
Ini memang istilah "penyakit baru" penyakit zaman yang diderita
banyak orang dalam berbisnis. Termasuk juga profesi kesehatan.
Seorang sopir Metromini terpaksa ngebut di jalanan untuk menarik
penumpang sebanyak-banyaknya. Demi setoran, karena pendapatannya
memang tidak cukup. Tentu saja ia jadi sering mengalami
kecelakaan.
Hampir semua profesi sekarang juga berbuat seperti itu sehingga
keprofesionalan dan mutu pekerjaan sangat menurun. Terutama di
bidang-bidang yang tidak memperoleh imbalan uang sepadan.
Tanggung jawab, norma, etik, dan moral makin jarang diterapkan.
Universitas misalnya, sangat menderita. Karena itu banyak yang
ngobyek. Coba saja cari kesempatan untuk dapat berapat mengenai
pendidikan. Setengah mati menemukan waktu di mana semua orang
bisa hadir. Apalagi untuk melakukan peneilitian yang membutuhkan
waktu dan ketekunan.
Dokter juga "terpaksa" bekerja di banyak rumah sakit untuk
memperoleh penghasilan cukup. Seorang penderita yang dirawat
jarang menemukan dokternya menjenguk dan kemudian bersama-sama
merundingkan penyakit dan menjelaskannya kepada penderita dan
keluarganya dengan rasional, santai dan terbuka.
Walau banyak dokter bisa berbuat demikian, namun sindrom
Metromini menyebabkan jumlah dokter seperti itu makin lama makin
berkurang.
Narnpaknya fenomena ini jadi salah satu penyebab mengapa
sebagian penderlta pergl berobat ke luar negeri. Di sana ia
memperoleh informasi pelayanan yang baik.
Pelayan yang kurang cepat dan efisien Juga menyebabkan orang
memutuskan berobat ke luar negeri. Perawatan di RS Indonesia
umumnya lebih lama karena tindakan bertele-tele.
Jadi bisa dipahami sepenuhnya mengapa Departemen Kesehatan yang
menghendaki agar rumah sakit swasta segera memiliki tenaga
dokter tetap supaya pelayanan dapat maksimal. Hal ini dapat
tercapai bila para dokter mendapat penghasilan cukup.
Polifarmasi
Polifarmasi berarti menggunakan terlalu banyak jenis obat untuk
satu penderita. Fenomena ini sangat memprihatinkan di Indonesia
terutama di kota kota besar. Polifarmasi memang mempunyai
konotasi kurang baik karena obat yang dipakai tidak jelas untuk
apa, berlebihan, tidak memperbaiki penyakit dan dapat
menimbulkan efek samping interaksi obat. Ini juga meninggikan
biaya resep.
Pengobatan rasional ialah menggunakan obat seperlunya yang
berarti sesedikit mungkin. Memang resep obat tidak dapat
diumpamakan resep makanan tradisional yang penuh bumbu.
Menerapkan polifarmasi lebih merugikan penderita daripada
memperbaiki penyakitnya. Efek samping sederhana seperti mual
saja sudah dapat membuat hidup orang terganggu dan mengurangi
masukan makanannya sehingga menimbulkan reaksi berantai yang
lebih parah.
Banyak obat menimbulkan mual termasuk antibiotika dan vitamin.
Seorang direktur pabrik obat asing pernah berkata pada penulis,
ia selalu pergi ke Singapura bila sakit, karena dokter Indonesia
menerapkan defensif terapi. Artinya memberi obat untuk setiap
keluhan sehingga terjadi polifarmasi.
Ketidakpercayaan seperti ini menyebabkan banyak orang pergi ke
luar negeri untuk berobat. Padahal pangkal persoalannya remeh
saja. Polifarmasi makin mengganggu bila alasannya karena
menerima komisi dan pabrik obat.
Polifarmasi terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit: juga
sering terjadi karena penderita dikonsultasikan kepada beberapa
ahli. Setiap ahli memberi resep sendiri dan tanggung jawab untuk
menyatukan dan merasionalkan semua obat itu menjadi kabur.
Dengan demikian "super polifarmasi" bisa terjadi.
Alangkah baiknya bila penanganan penderita yang cerai-berai ini
dapat disempurnakan menjadi bentuk penanganan terpadu.
Sebagai penutup saya sarankan hal-hal di atas perlu dipikirkan
bersama penyelesaiannya. Membahas globalisasi pelayanan
kesehatan tanpa mempertimbangkan faktor manusia akan menimbulkan
masalah nasional karena citra kita di mata dunia akan dipandang
rendah. Tanpa globalisasi pun kita sudah perlu memperbaikinya.
(Kompas - 13 Agustus 1995)
Ditulis oleh seorang teman di ocean baroness

Thursday, April 01, 2004
Waktu terus berjalan tak terasa sudah cukup lama kita meninggalkan kampus pluit mungkin hampir 5-6 tahun kita tidak berjumpa lagi.
Banyak perubahan yang mungkin rekan-rekan yang lain alami ada yang sudah menikah,ada yang sudah punya anak,ada yang sedang menuntut ilmu dinegeri orang,ada juga yang mungkin masih mempertahankan
kesendiriannya alias single,ada juga yang sudah kaya tapi ada juga yang belum kaya...
Tapi perubahan yang sering dilihat adalah adanya perubahan berat badan dari masing-masing rekan-rekan tentu hal ini termasuk yang saya rasakan mengapa begitu tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.....

Good morning kata-kata yang hampir semua orang tahu berarti selamat pagi sebuah kata yang sering diucapkan untuk mengawali indahnya hari.Sama seperti website ini yang menggunakan kata good morning untuk menyatakan telah lahirnya semua website yang berformat weblog yang dapat digunakan sebagai rumah singgah dunia maya teman-teman yang merasa pernah belajar di kampus pluit.Tempat ini terbuka buat semua rekan dari berbagai angkatan jangan ragu untuk mengirimkan kritik atau saran maupun tulisan ke weblog ini harap maklum bila banyak kesalahan karena penulis sendiri sedang taraf belajar bagaimana men"create" suatu weblog menjadi semenarik mungkin.Akhir kata sumbang saran rekan-rekan semua kami butuhkan kirimkan ke yauridouglas@yahoo.com dan jangan lupa cc khan ydouglas@unocal.com
