blog*spot
blog*spot
get rid of this ad | advertise here



FKUAJ JAKARTA



Sunday, June 27, 2004

PAMIT

Temans untuk sementara posting gue disini dihentikan sementara karena agak sulit ya kalau punya dua blog tadinya sih gue bermaksud blog ini akan akan berisi hal hal tentang medical stuff tapi apa daya gue agak males karena terlalu serius kesannya
Jadi kalau temans mau lihat cerita gue lagi silahkan aja klik www.ydouglas.blogspot.com

6/27/2004 05:57:00 AM


Monday, June 21, 2004

TERJADI LAGI

Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu
arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi "hijau" melihat uang, sampai
akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki.
Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang
lebih penting adalah etos kerja, dalam arti, penghargaan terhadap apa yang
kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan
rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan ARTI YANG SANGAT BESAR.


sumber kompas 21/6/04

Mugiharto melaporkan sejumlah dokter Rumah Sakit (RS) Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, ke Polda Metro Jaya, Jumat (18/6), dengan tuduhan melakukan kelalaian (malpraktik) ketika merawat Latifah, anak Mugiharto. Latifah, berumur lima tahun, meninggal dunia pada 17 Maret lalu setelah ditangani oleh beberapa dokter di RS itu.
Menurut Mugiharto, kasus itu berawal ketika Februari 2004 keluarganya menemui dokter Bambang yang sering merawat anaknya. Bambang mengatakan, anaknya memiliki gejala usus buntu. Mugiharto mengemukakan, sebelumnya anaknya sudah terkena demam, dan saat diambil sampel darahnya, ternyata terkena demam berdarah.
Korban lalu dirawat di RS Haji Pondok Gede atas anjuran Bambang yang berparktik di RS tersebut. Pada 29 Februari, dokter Bagus, ahli bedah RS tersebut mengunjungi Latifah dan menyatakan, kalau trombosit Latifah normal, anak itu harus segera dioperasi. Kalau tidak, bisa berakibat lebih parah.
Pada 9 Maret 2004, Bagus mengecek dan menilai korban layak dioperasi karena kondisinya sudah membaik. Bagus meminta persetujuan melakukan operasi. Mugiharto mendengar, dokter Bambang, ahli anak, kaget dan kurang berkenan dengan tindakan medis tersebut. Namun hal itu hanya diutarakan kepada perawat saja.
Akhirnya, kata Mugiharto, operasi dilaksanakan tanggal 10 Maret, dan sempat tertunda selama tiga jam. Hingga 11 Maret korban belum sadar. Dokter Gusti, spesialis syaraf, menilai bahwa pada batang otak korban terdapat cairan yang menyumbat dan katanya ada kemungkinan korban sebelumnya pernah mengalami benturan hingga lambat sadar.
Mugiharto heran terhadap perkembangan kesadaran anaknya pada beberapa hari kemudian. Ia melihat ada luka baru pada kaki kanan, tepatnya dekat mata kaki terdapat benjolan seperti terkena panas melepuh berisi cairan.
Dokter Bambang sempat berkata pada Mugiharto bahwa kondisi anaknya parah dan belum ada tanda-tanda untuk membaik. Latifah akhirnya meninggal pada tanggal 17 Maret 2004. Mugiharto merasa dirugikan oleh penanganan dokter di RS Haji tersebut. Ia melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya. (Ant/Egi)


6/21/2004 09:41:00 AM


Monday, April 05, 2004

PEMILU

Hari ini seluruh penduduk indonesia menggunakan hak pilihnya memilih wakil rakyat yang mungkin dapat mengubah warna negeri kita tercinta mudah-mudahannya saja pemilu kali ini bisa membawa perubahan yang lebih baik dari yang kemarin semoga saja....

4/05/2004 07:20:00 AM


Sunday, April 04, 2004

HUET

Kurang lebih minggu lalu gue ikut pelatihan HUET (helicopter underwater Escape Training) yaitu training menyelamatkan diri bila heli tersebut tercebur ke laut.Training ini wajib diikuti oleh setiap pekerja yang selalu menggunakan heli sebagai alat transportasi dari dan kelokasi offshore ibaratnya "prepare before the worst happen " dan pelatihan ini diadakan dikolam renang villa beta .Karena menurut statistik kemungkinan untuk selamat alias survivalnya dari kejadian tersebut 98% bila kita sudah mengikuti training tersebut dengan catatan bila kita mendapatkan peringatan/alert dari pilot/co-pilot lebih dari 1 menit.Mengapa didunia hanya heli jatuh ke laut saja yang ada trainingnya karena kalau heli jatuh didarat/dijurang atau menabrak gedung ya cukup di doakan aja mudah-mudahan masuk surga
Di training tersebut kita juga mendapatkan introduction mengenai sea survival selama ditraining ternyata kemampuan kita untuk bisa berenang tidak menjadi yang utama yang paling penting adalah "Don't panic"
Tapi bagaimana mungkin tidak panik kita diikat dengan safety belt didalam modul heli kemudian modul heli tersebut diterbalikan jadi posisi kita didalam modul heli tersebut adalah kaki diatas kepala dibawah dengan posisi terikat harus bisa melepaskan diri dalam waktu lebih dari 10 detik lebih lama lebih baik kurang dari 10 detik kita dianggap gagal wah mirip-mirip dengan "harry houdini" cara melepaskan dirinya pun ada 3 pertama dari pintu kedua dari jendela ketiga terserah kita bisa dibayangkan berapa banyak air yang kita harus minum, masuk hidung, dan masuk telinga ibaratnya pada training ini kita dituntut paling tidak sama seperti deni manusia ikan. Cukup sudah penderitaan gue pulang dari training semua badan jadi sakit-sakit dan terserang flu berat tapi berita baiknya gue punya sertifikat yang berlaku international dan masa berlakunya 2 tahun.......

4/04/2004 10:56:00 AM


Friday, April 02, 2004

Catatan Perjalanan
MENDULANG HARI DI TEMBAGAPURA



Assalamualaikum!
Mula-mula saya minta maap(kaya' Bajaj Bajuri, ces!) yang sebesar-sebesarnya karena baru sekarang bisa ngirim kabar dari papua.

Anyway, cerita ini dimulai ketika pesawat airfast 737-200 mulai mendaratkan badannya di Bandara Moses Kilangin, Timika, Papua. Sempat terkaget-kaget juga melihat fasilitas yang ada di ruang tunggu bandara. Jangan harap melihat eskalator atau papan elektronik yang mengabarkan arrival dan semacamnya, alih-alih barang mewah tersebut, yang ada hanyalah dua buah kotak seukuran 1x6 meter tempat portir yang mengendarai truk kecil membuang muntahan koper-koper dari perut pesawat dengan cueknya. Sementara para penumpang berjubel di d! epan kotak tersebut mencari barang-barangnya masing-masing.

Akhirnya, setelah berjuang keras, saya mendapatkan pula ransel 100 liter dan daypack saya. Sambil celingak-celinguk mencari mobil ambulans, saya mulai melangkahkan kaki keluar dari ruang tunggu bandara. Sayapun terperangah kaget kembali melihat mobil yang dikatakan ambulans sewaktu briefing di jakarta. Ternyata itu adalah sebuah Jip landrover Toyota 4WD yang diembel-embeli palang marah di moncong depannya.

Untunglah, ternyata pepatah don't judge a book by it's cover masih berlaku juga di sini. Walau berpenampilan buruk, ternyata fasilitasnya kelas satu. AC + sistem stereo, Jok empuk lengkap dengan seat-belt (yang kemudian saya ketahui harus selalu dikenakan kalau tidak mau bayar 400 ribu atau diterminated!), dan yang paling bikin saya terbengong-bengong adalah sistem radionya. Dari radio tersebut kita bisa menghubungi radio SSB, telepon, bahkan HT dan HP. Entah teknologi dari mana, yang jelas saya sudah tidak memikirkannya lagi ketika mobil mulai melaju langsung menuju tembagapura.

Sopirnya orang manado, yang dengan tangkas menjelaskan kondisi di kiri-kakan jalan. Jalannya berbatu-batu kerikil dan tidak diaspal. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa hal itu karena jalan tersebut sering dilalui truk-truk bertonase besar. makanya tidak seperti di Inco, Jalan sepanjang 74 Mile(dari puncak gunung Grasberg - Pelabuhan amamaparita) tersebut cuma dilapisi kerikil dan setiap hari disirami dan diratakan dengan glider. Juga dijelaskan tentang tailing, sungai keabu-abuan yang mengalir di sebelah kiri saya yang merupakan sisa pemisahan emas dan tembaga di oreflow di atas. Di sepanjang sungai tersebut nampak ratusan orang Amungme dengan tekun mendulang di tengah sungai. Oh, iya. Di dalam daerah kontrak karya PT FI ada dua suku besar, yaitu Amungme yang hidup di daerah pegunungan dan Kamoro yang hidup di tepi pantai. (Sekedar info, dari hasil mendulang di tailing tersebut kabarnya mereka bisa mendapatkan setengah hingga satu jeti sehari, bukan main!)

Pemeriksaan terhadap Universal ID amatlah ketat. Tiap orang yang tidak memiliki ID card diperiksa dan dipulangkan dengan segera ke LOw lands. Pemeriksaan berlangsung di tiga titik, yang paling utama di Mile 50. Di sini adalah titik pembatas antara highlands dan lowlands. Setelah melewati sebuah terowongan(kata si sopir, kita harus melewati sekitar 3 terowongan jika ingin menuju Mile 74!) yang panjangnya sekitar 1 km, sampailah kami di kota Tembaga pura. Dibangun disebuah lembah datar, dilewati oleh dua buah sungai besar, kota ini terlihat modern, damai dan dingin!.
Lewat di depan RS freeport yang mungil(kira-kira cuma seukuran UPF!) dan langsung ditempatkan di sebuah kamar lantai 1, tepat di depan Mess Hall(ruang makan) Flamboyant. Si sopir mengantar saya ke kamar dengan janji akan datang lagi besok untuk menjemput saya ke RS. Sebenarnya jaraknya dekat, namun takutnya kalo-kalo tersesat, maka saya mengiyakan saja maksudnya. lagipula, saya masih bengong juga melihat fasilitas kamar yang jauh kelasnya dibandingkan kamar di rumah, apalagi dengan ruang TBM dan Sinovia yang sering kita tinggali di kampus dulu. Sambil, membuang ransel ke lantai, menjatuhkan daypack ke meja, menyalakan TV dengan remote, saya membuang diri ke atas ranjang empuk berselimut rapi. Sebelum terlelap, terlintas pikiran untuk mandi air panas dan ganti baju. namun kantuk menyerang begitu hebat. Sambil bersepatu, sehabis berbisik bismillah, sayapun bergumam, que sera, sera..

Ditulis seorang teman dari SOS Papua

4/02/2004 08:43:00 AM


TREND BEROBAT KE LUAR NEGERI
(Mutu Dokter Indonesia Payah??)

Alm. Saidah Binti Amang, istri Doyok, meninggal menyisakan duka. Salah satunya tanya kenapa telat dideteksi dan salah diagnosa oleh dokter dalam negeri dan baru terungkap jelas di Singapura. Reynold Panggabean juga pernah mengalami salah diagnosa.
Atau mau yang jelas lagi, baca berita ini Enam Tahun, Kerangka Bayi di Perut Ny. Maryati.

Para artis pun mulai menyukai berobat ke luar negeri. Seperti juga pejabat, pengusaha bahkan koruptor.

Kenapa 'LUAR NEGERI' terasa lebih hebat dari dalam negeri. Prof. Dr. Iwan Darmawansyah, guru besar FKUI menganalisanya begini:

Sindrom Metromini

Ini memang istilah "penyakit baru" penyakit zaman yang diderita
banyak orang dalam berbisnis. Termasuk juga profesi kesehatan.

Seorang sopir Metromini terpaksa ngebut di jalanan untuk menarik
penumpang sebanyak-banyaknya. Demi setoran, karena pendapatannya
memang tidak cukup. Tentu saja ia jadi sering mengalami
kecelakaan.

Hampir semua profesi sekarang juga berbuat seperti itu sehingga
keprofesionalan dan mutu pekerjaan sangat menurun. Terutama di
bidang-bidang yang tidak memperoleh imbalan uang sepadan.
Tanggung jawab, norma, etik, dan moral makin jarang diterapkan.

Universitas misalnya, sangat menderita. Karena itu banyak yang
ngobyek. Coba saja cari kesempatan untuk dapat berapat mengenai
pendidikan. Setengah mati menemukan waktu di mana semua orang
bisa hadir. Apalagi untuk melakukan peneilitian yang membutuhkan
waktu dan ketekunan.

Dokter juga "terpaksa" bekerja di banyak rumah sakit untuk
memperoleh penghasilan cukup. Seorang penderita yang dirawat
jarang menemukan dokternya menjenguk dan kemudian bersama-sama
merundingkan penyakit dan menjelaskannya kepada penderita dan
keluarganya dengan rasional, santai dan terbuka.

Walau banyak dokter bisa berbuat demikian, namun sindrom
Metromini menyebabkan jumlah dokter seperti itu makin lama makin
berkurang.

Narnpaknya fenomena ini jadi salah satu penyebab mengapa
sebagian penderlta pergl berobat ke luar negeri. Di sana ia
memperoleh informasi pelayanan yang baik.

Pelayan yang kurang cepat dan efisien Juga menyebabkan orang
memutuskan berobat ke luar negeri. Perawatan di RS Indonesia
umumnya lebih lama karena tindakan bertele-tele.
Jadi bisa dipahami sepenuhnya mengapa Departemen Kesehatan yang
menghendaki agar rumah sakit swasta segera memiliki tenaga
dokter tetap supaya pelayanan dapat maksimal. Hal ini dapat
tercapai bila para dokter mendapat penghasilan cukup.

Polifarmasi

Polifarmasi berarti menggunakan terlalu banyak jenis obat untuk
satu penderita. Fenomena ini sangat memprihatinkan di Indonesia
terutama di kota kota besar. Polifarmasi memang mempunyai
konotasi kurang baik karena obat yang dipakai tidak jelas untuk
apa, berlebihan, tidak memperbaiki penyakit dan dapat
menimbulkan efek samping interaksi obat. Ini juga meninggikan
biaya resep.

Pengobatan rasional ialah menggunakan obat seperlunya yang
berarti sesedikit mungkin. Memang resep obat tidak dapat
diumpamakan resep makanan tradisional yang penuh bumbu.

Menerapkan polifarmasi lebih merugikan penderita daripada
memperbaiki penyakitnya. Efek samping sederhana seperti mual
saja sudah dapat membuat hidup orang terganggu dan mengurangi
masukan makanannya sehingga menimbulkan reaksi berantai yang
lebih parah.

Banyak obat menimbulkan mual termasuk antibiotika dan vitamin.
Seorang direktur pabrik obat asing pernah berkata pada penulis,
ia selalu pergi ke Singapura bila sakit, karena dokter Indonesia
menerapkan defensif terapi. Artinya memberi obat untuk setiap
keluhan sehingga terjadi polifarmasi.

Ketidakpercayaan seperti ini menyebabkan banyak orang pergi ke
luar negeri untuk berobat. Padahal pangkal persoalannya remeh
saja. Polifarmasi makin mengganggu bila alasannya karena
menerima komisi dan pabrik obat.

Polifarmasi terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit: juga
sering terjadi karena penderita dikonsultasikan kepada beberapa
ahli. Setiap ahli memberi resep sendiri dan tanggung jawab untuk
menyatukan dan merasionalkan semua obat itu menjadi kabur.
Dengan demikian "super polifarmasi" bisa terjadi.

Alangkah baiknya bila penanganan penderita yang cerai-berai ini
dapat disempurnakan menjadi bentuk penanganan terpadu.

Sebagai penutup saya sarankan hal-hal di atas perlu dipikirkan
bersama penyelesaiannya. Membahas globalisasi pelayanan
kesehatan tanpa mempertimbangkan faktor manusia akan menimbulkan
masalah nasional karena citra kita di mata dunia akan dipandang
rendah. Tanpa globalisasi pun kita sudah perlu memperbaikinya.
(Kompas - 13 Agustus 1995)
Ditulis oleh seorang teman di ocean baroness

4/02/2004 08:37:00 AM


Thursday, April 01, 2004

Waktu terus berjalan tak terasa sudah cukup lama kita meninggalkan kampus pluit mungkin hampir 5-6 tahun kita tidak berjumpa lagi.
Banyak perubahan yang mungkin rekan-rekan yang lain alami ada yang sudah menikah,ada yang sudah punya anak,ada yang sedang menuntut ilmu dinegeri orang,ada juga yang mungkin masih mempertahankan
kesendiriannya alias single,ada juga yang sudah kaya tapi ada juga yang belum kaya...
Tapi perubahan yang sering dilihat adalah adanya perubahan berat badan dari masing-masing rekan-rekan tentu hal ini termasuk yang saya rasakan mengapa begitu tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.....

4/01/2004 09:30:00 PM


Good morning kata-kata yang hampir semua orang tahu berarti selamat pagi sebuah kata yang sering diucapkan untuk mengawali indahnya hari.Sama seperti website ini yang menggunakan kata good morning untuk menyatakan telah lahirnya semua website yang berformat weblog yang dapat digunakan sebagai rumah singgah dunia maya teman-teman yang merasa pernah belajar di kampus pluit.Tempat ini terbuka buat semua rekan dari berbagai angkatan jangan ragu untuk mengirimkan kritik atau saran maupun tulisan ke weblog ini harap maklum bila banyak kesalahan karena penulis sendiri sedang taraf belajar bagaimana men"create" suatu weblog menjadi semenarik mungkin.Akhir kata sumbang saran rekan-rekan semua kami butuhkan kirimkan ke yauridouglas@yahoo.com dan jangan lupa cc khan ydouglas@unocal.com


4/01/2004 09:00:00 PM


admin

archive
03/28/2004 04/04/2004 06/20/2004 06/27/2004

links

POWERED BY BLOGGER, DESIGNED BY GARNET